Tips Menghasilkan Semangka Premium

Untuk masuk ke pasar supermarket, petani atau pemasok tentu saja harus memenuhi standar terten – tu. Menurut T. Bagus Sudaryanto, Direktur KAM Consulting Indonesia, standar se – mangka mencakup lima hal. Satu, ukuran 4-6 kg per buah. Dua, buah masih ber – tangkai meskipun pendek supaya produk lebih tahan. Tiga, kulit buah mulus, tidak baret-baret akibat penanganan yang buruk. Empat, tidak lembek karena tergencet atau terbanting. Lima, tidak ber – lubang atau busuk, biasanya berair. Selain itu, tentu saja rasanya manis. Anton Antonius, petani dari Bogor yang memasok semangka berbiji ke supermarket mengaku memproduksi semangka berkelas premium. Se – mangka ini, menurut dia, bisa menjadi penggerak baru untuk mendorong konsumsi se – mang ka.

Pasalnya, bu – ah ini kaya vitamin A, B1, B6, dan C. Selain itu ada kandungan asam amino sitrulin, asam spantotenik, tembaga, biotin, potasium, kalium, dan magnesium. Semangka premium ba nyak diincar masya – ra kat meskipun harga – nya lebih tinggi karena rasanya yang manis dan bertekstur lembut. Untuk menghasilkan semangka berkua – litas baik, menurut Abdul Hamid, perlu di – mulai dulu dari persiapan lahan yang se – suai bagi pertumbuhan tanaman. Presdir PT Mulia Bintang Utama, produsen benih hortikultura di Depok ini menyatakan, hal per tama yang perlu di – siapkan adalah peng – olahan lahan.

Bi la peng olahan lahan nya baik tentu pupuk yang diberikan dapat dise – rap oleh tanaman. “Ini prinsip dasar atau pe – nentu untuk meng ha – silkan semangka premium. Aspek lain nya, unsur hara yang tepat sesuai kebu tuh an tanaman,” ujar Hamid kepada AGRINA. Hamid juga menganjurkan penggunaan dolomit untuk membentuk pH tanah yang netral (6,5 – 7). Dosisnya tergantung pH tanah.“Umumnya petani tidak berpikir pH awalnya berapa dinaikkan dolomit berapa ton per hektar. Cara aplikasinya seperti apa ini belum paham. Contohnya, pH 4,3 untuk mencapai 6,5 harus ditam – bahkan 9 ton dolomit. Jika tindakan awal sudah dilakukan dengan baik, maka hasil akhirnya akan bagus,” jelas Sekjen Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) ini.

Budidaya Semangka Premium

Dalam berproduksi, Anton menanam semangkanya di lahan terbuka dengan ta – nah yang gembur. Tanahnya ber-pH tanah 6-7. Kalau pH kurang dari 6, tanah dikapur dulu. Lahan dibentuk bedengan dengan lebar 90 cm, sementara saluran airnya sele bar 60 cm. Tutup areal tanam dengan plas tik hitam atau mulsa yang sudah dilu – bangi dengan jarak tanam 8-10 cm. Setelah lahan siap, benih semangka di – rendam air selama 3 hari. Setelah benih tumbuh dan lahan sudah diberi pupuk NPK, bibit bisa segera ditanam. “Kami memiliki teknik atau SOP (standar operasional prosedur) sendiri dalam budidaya. Berbeda dengan petani lainnya, karena kami memiliki kualitas baik dan segmen pasar juga berbeda. Kami bermitra de – ngan petani di seluruh Indonesia untuk meng hasilkan semangka premium,” jelas pria penggerak Sweety Farm.

Proses Budidaya

Antonius menjelaskan, semangka pre mi – um membutuhkan pemupukan yang khu – sus. Komposisi nutrisi tanaman lebih banyak yang bersumber organik. Nutrisi kimianya diperkecil. Ia mengaku masih menggunakan pestisida kimia tapi di level aman. Setiap pertumbuhan harus dijaga dan dilihat. Pada saat pindah tanam ke lahan hingga umur 7 hari setelah tanam (HST) selalu diberikan pupuk organik. Kalau tidak ada respon sampai tanaman berumur 7 hari, harus diberikan hormon biasa agar ta – naman dapat tumbuh sesuai fase nya. Pro – ses penyiraman dilakukan tiga ha ri sekali atau disesuaikan dengan kondisi cuaca.

Pada umur 1-20 hari setelah tanam (HST), tanaman diberi pupuk NPK 150 g dan pupuk organik 5 kg per batang. Sete – lah umur 20 hari dan seterusnya sampai panen, pupuk organik ditambahkan 2 kg dan NPK 450 g per tanaman. “Awal proses tanam harus diperkuat, tingkat pemberian nutrisi terlihat dari 2- 25 hari. Pemupukan dan perawatan sama saja tidak jauh berbeda dengan semang – ka biasa. Tapi yang terpenting pemberian pupuk benar-benar tepat,” jelasnya. Tentang Organisme Pengganggu Tum – buhan (OPT) yang acap kali mengancam adalah hama penggerek daun, kutu daun, thrips, lalat buah, ulat grayak, dan ulat tanah.

Sedangkan penyakit yang kadang mengganggu, yaitu rebah semai, layu fusa rium bercak daun, dan busuk buah. “Kalau OPT masih dalam level aman, ti dak sampai terlalu berlebihan karena sis tem kita menjaga lingkungan dan dari awal sudah menerapkan budidaya yang baik. Jadi tidak terlalu berlebihan,” tegasnya

Paket Penambah Hasil, Panen

Paket Penambah Hasil, Panen – Paket Penambah Hasil yang terdiri dari Aminosong, RapidGro (RG), dan Diffuse dapat menambah hasil panen semangka minimal 20%. Salah satu buah yang populer dan tidak asing di Indonesia adalah semangka. Buah yang berbentuk alamiah bulat atau lonjong ini sangat digemari masyarakat karena buah ini memiliki kandungan air yang tinggi se – hingga jika kita mengonsumsinya bisa menghilangkan dahaga. Buah semang – ka ini memiliki prospek yang bagus un – tuk dibudidayakan, bahkan ada petani yang bisa memperoleh keuntungan le – bih dari 100% dari total biaya produksi.

Jupri dan Dedi Kurniawan, petani se – mangka dan pemilik lahan di daerah Dolok Sinumbah Hutabayu Raja, Kabu – paten Simalungun, Sumatera Utara ada – lah contoh petani yang berhasil dalam membudidayakan semangka. Tanaman semangkanya pada umur 45 hari sete – lah tanam (HST) terlihat sangat segar, daun berwarna hijau tua dan meng – kilap. Warna buah semangkanya yang merupakan varietas nonbiji terlihat hi – jau tua, mulus dan segar, menumbuh – kan harapan bagi Jupri dan Dedi bahwa panen akan bagus.

Kuncinya Paket Penambah Hasil

Jupri dan Dedi Kurniawan mengapli – kasikan Paket Penambah Hasil (PPH) da – ri PT Agro Guna Makmur. Paket ini spe – sial karena dirancang dengan mem – perhatikan kebutuhan tanaman yang berada di Indonesia, khususnya untuk padi, jagung, dan kedelai (pajale) dan hortikultura. “Dengan aplikasi rutin Paket Penambah Hasil, hasilnya berupa peningkatan kualitas pertumbuhan dan hasil panen. Untuk tanaman buah-bu – ah an, daun akan menjadi hijau tua meng kilap, tebal dan segar, jumlah bu – ah bertambah banyak dan pengisian – nya pun lebih sempurna serta lebih awet dalam penyimpanan. Bahkan ketika dipanen, tanaman masih terlihat segar yang mengindikasikan pengisian buah masih maksimal,” tutur Dedi yang menghilangkan dahaga. Buah semang – ka ini memiliki prospek yang bagus un – tuk dibudidayakan, bahkan ada petani yang bisa memperoleh keuntungan le – bih dari 100% dari total biaya produksi.

Jupri dan Dedi Kurniawan, petani se – mangka dan pemilik lahan di daerah Dolok Sinumbah Hutabayu Raja, Kabu – paten Simalungun, Sumatera Utara ada – lah contoh petani yang berhasil dalam diamini oleh Jupri. Demikian juga dengan Sukiran, petani dari Tambak Rejo, Jawa Timur ini yang sudah 19 tahun menanam semangka. Sebagaimana Jupri dan Dede, Sukiran juga mengaplikasikan Paket Penambah Hasil dari PT Agro Guna Makmur, dan hasilnya sangat memuaskan. “Pada ma – sa vegetatif pertumbuhan tanamannya cepat menjalar, daun lebar-lebar, ba – tang kuat dan panjang. Pun ketika masa generatif bunganya banyak sehingga mempermudah penyilangan dan buahnya cepat jadi,” jelas Sukiran. Jupri dan Sukiran mengaplikasikan Aminosong, RapidGro (RG), dan Diffuse ditambah fungisida Prospero, semua – nya produk dari PT Agro Guna Makmur.

Inti dari Paket Penambah Hasil ini ada – lah Aminosong, produk BioStimulan Organik dikombinasikan dengan pupuk daun premium RapidGro dan Diffuse sebagai penembus, perata dan perekat – nya. Aminosong terbukti dapat mengu – rangi stres pada tanaman, berfungsi sebagai “Booster Penyerap Pupuk” pada tanaman sehingga mengurangi kerugian yang diakibatkan pupuk yang ter – buang, memaksimalkan pertumbuhan ta naman apapun fase pertumbuh – annya. Paket Penambah Hasil tidak bisa meng gantikan fungsi pupuk sebagai makanan utamanya. Namun Paket Penambah Hasil berfungsi meningkat – kan kemampuan tanaman dalam me – nyerap pupuk serta menyeim bangkan pertumbuhan dan kesehatan tanaman sehingga tumbuh seperti seharusnya sesuai dengan ekspektasi varietas ta – naman. Paket Penambah Hasil ini aman dicampur dengan segala jenis pupuk maupun pestisida lainnya.

Cara Mengatasi EMS pada Tambak Udang Bagian 2



Cegah Pemicu EMS

Adapun cara mengatasi EMS, jelas Grin, dengan mencegah agar kondisi yang me – micu EMS tidak terjadi. Di antaranya, me – nurunkan padat tebar sesuai daya dukung kolam. Untuk kolam tanah tradisional, ti – dak memiliki saluran sentral, dan per tu – karan air terbatas maka sistem yang bisa diterapkan adalah semi intensif dengan padat tebar 20-50 ekor/m2. Jika kolam tanah tradisional atau kolam dengan lapisan plastik PE (polyethylene) sebagian, memiliki saluran sentral dan tandon, maka bisa menjalankan sistem intensif dengan padat tebar ideal 50-100 ekor/m2. Sementara untuk kolam dengan lapisan PE menyeluruh, memiliki saluran sentral dan tandon yang cukup, bisa me – ne rapkan sistem superintensif dengan padat tebar 100 ekor/m2. Langkah lainnya dengan seleksi ketat benur. Gunakan benur specific pathogen free (SPF) & specific pathogen resistant (SPR) yang sehat dan lebih besar. Sebelum penebaran, benur harus diperiksa guna me ngetahui apakah sudah terkon tami – nasi virus atau bakteri, khususnya V. parahaemolyticus. Sekarang, urai praktisi udang itu, banyak galur udang yang toleran EMS.

Oleh se – bab itu, benur harus berasal dari sumber yang dapat diandalkan dan terpercaya serta memiliki sertifikasi dari lembaga berwenang. Pemicu EMS lainnya adalah be nur yang stres saat pengangkutan. Ka – rena itu pilih transportasi yang cepat, op – timalkan stabilitas lingkungan, dan terapkan desinfeksi atau probiotik guna me – nekan Vibrio selama transportasi be nur. “Selanjutnya, turunkan salinitas air yang tinggi, terutama saat penebaran be nur. Kurangi salinitas saat penebaran hing ga di bawah 15 ppt dan hindari pe ne baran saat panas terik matahari,” tegasnya. Tandon Resep lainnya yaitu memastikan desain dan tata ruang tambak memiliki pasokan air yang cukup untuk pergantian air. Per – bandingan yang ideal adalah 25%-50% lahan untuk budidaya dan 50%-75% untuk tandon. Komposisinya dari 25% itu untuk tandon penampung air dan 25%-50% untuk pengolahan air yang terdiri dari kolam sedimentasi, kolam klorinasi, kolam remineralisasi atau kolam yang air nya siap digunakan, serta kolam lumpur, dan sisanya kolam pembesaran sebesar 25%.

Untuk mengatasi kekurangan tandon dan stok ganti air dengan mengurangi ukuran dan jumlah kolam budidaya serta membangun tandon yang cukup sehing – ga bisa dipastikan air yang digunakan benar-benar bersih. Karena itu perlu dilakukan sedimentasi, filtrasi, klorinasi dan desinfeksi sebelum air digunakan. Langkah yang lazim dilakukan adalah mengendapkan air di tandon lalu menya – ringnya sebelum diolah. Lalu, klorinasi pa – da 20-50 ppm dan meminimalkan bahan organik dalam air. Kemudian, lakukan desinfeksi sebelum penebaran benur dan aplikasi probiotik. “Optimalisasi persiapan kolam dengan memberikan waktu yang cukup untuk per siapan kolam dan lebih mem perha – tikan kebersihan dan desinfeksi sebelum penebaran benur. Keringkan dan bersih – kan kolam sebelum penebaran benur. Fokus selama persiapan kolam hingga limbah di kolam benar-benar bersih karena meminimalkan limbah adalah kunci kesuksesan budidaya,” ia mengingatkan.

Kolam tanah perlu waktu lebih lama un – tuk pengeringan, antara 10-15 hari. Khu – sus kolam lapisan PE, harus benar-benar bersih, didesinfeksi, dan dikering kan se – cara optimal. Pastikan tidak ada lubang pa da PE yang rusak, tertutup, lalu periksa sedimen di balik plastik. “Nolkan biofilm sebelum penebaran, sebab ketika masih ada limbah di kolam berarti Anda meles – tarikan EMS,” ia mewanti-wanti.



Pendederan

Lakukan pendederan benur dengan memblok salah satu bagian kolam. Se dia – kan aerasi tinggi dan kendalikan muatan Vibrio dengan pertukaran air setiap hari atau desinfeksi. Minimalkan juga beban organik melalui pertukaran air. Ukuran area pendederan 25% dari luas kolam. “Namun sistem ini sekarang sudah jarang diterapkan di Thailand,” ungkapnya. Cara lain yang dilakukan berupa pen de – deran dengan sistem tangki, rumah kaca, dan kolam khusus pendederan. Kedua sistem terakhir yang banyak diterapkan di Thailand dan menjadi usaha komersial di beberapa sentra udang. Selain pende der – an, banyak juga pembudidaya yang mem – beli pullet udang. Jika itu yang dilakukan, maka pilih pullet sehat dan bersih.

Tingkat oksigen yang rendah juga me – nye babkan udang mudah terserang pe – nyakit, termasuk EMS. Solusinya, tambah jumlah sistem aerasi berupa kincir serta buang sampah atau bahan organik di ko – lam budidaya melalui saluran sentral. Lang kah lainnya dengan optimalisasi kua – litas air selama budidaya, yakni ku rangi area untuk kolam budidaya, perba nyak jumlah tandon, dan nolkan sedimen di dasar kolam. Sejumlah upaya yang dila – ku kan, di antaranya dengan memasang sis tem saluran pusat. “Pasang roda da – yung yang cukup untuk mentransfer lum – pur padat ke saluran pusat. Selalu dicek sisa sedimen di saluran pusat,” ulas Grin. Saluran pembuangan lumpur harus di cek secara berkala. Khusus untuk kolam tanah harus dilakukan pengelolaan ling kungan. Pada kolam tanah tradisional mi ni malkan limbah dan buang udang yang lemah. Lalu kultur dengan Macro bra chi um dan des – infeksi dan aplikasi probiotik guna me – nekan vibrio. Saat penebaran be nur, sa – linitas di bawah 15 ppt. “Jadi, kunci sukses untuk kolam tanah tradisional ada lah dengan mengeringkan kolam secara benar dan buang udang yang lemah,” jelasnya. Pembudidaya juga harus mengawasi be – ban vibrio dengan ketentuan total be ban vibrio kurang dan green Vibrio masing-ma – sing di bawah 10 cfu/ml. Selanjutnya, tebar pakan secara optimal dan hindari pakan berlebih. Jika kualitas air bagus, sedimen nol, dan beban organik rendah, biasanya tidak ada green vibrio. Mana je men pakan yang dilakukan pembudidaya Thailand adalah dengan mengontrol volu me pakan. Penebaran pakan lebih sedikit tetapi lebih sering tergantung pada kon disi udang. Di samping itu, mereka juga memper – ketat biosekuriti. Manusia, kendaraan, atau apapun harus didesinfeksi sebelum memasuki area tambak. Kemudian, me – ngurangi tekanan patogen dengan desin – feksi secara terus-menerus. Desinfeksi berkesinambungan adalah kunci untuk mengelola Vibrio. Mengelola limbah da – lam sistem budidaya dan melakukan desinfeksi berarti mengelola sistem Vibrio. “Jadi bisa disimpulkan ada tiga kunci sukses untuk mengelola EMS. Pertama, pa hami sistem yang ada dan pilih pen de – katan yang tepat. Lalu, kurangi limbah dan biofilm sebanyak mungkin. Terakhir, la kukan pembersihan dan desinfeksi ber – kelanjutan adalah kunci untuk mengelola Vibrio,” tandasnya.



Cara Mengatasi EMS pada Tambak Udang

Sebagai bentuk kewaspadaan ter- hadap serangan penyakit Mortality Syndrome (EMS, sindrom Early kematian dini), pemangku kepentingan in dustri udang di Lampung mulai menim – ba ilmu dari Thailand. Bagaimana strategi dan kiat pembudidaya di Negeri Gajah Putih tersebut menanggulangi EMS yang merebak sejak 2012 sehingga bisa bang – kit kembali?

Gejala EMS

Menurut Grin Swangdacharuk, MS, pada 2012 Thailand tertular setelah sebelum – nya EMS pertama kali ditemukan di China pada 2009. “Penyakit ini kemudian terus menyebar ke Asia Tenggara. Yakni, tahun 2010 muncul di Vietnam, disusul tahun 2011 di Malaysia, dan terakhir tahun 2012 di Thailand,” ujar Technical Manager Lan – xess Regional Asia Pasifik itu pada seminar yang diselenggarakan Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Lampung. Grin menunjukkan, udang yang terse rang EMS kelihatan pucat, kusut, dan he pa to – pankreas berwarna putih. “Gejalanya mirip serangan AHPND,” lanjutnya. Jadi, EMS dikenal juga dengan istilah teknis Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) yang disebabkan Vibrio para hae molyticus dan bakteri halofilik gram negatif.

Akibat EMS, produksi udang Thailand yang sebelumnya rata-rata 600 ribu ton/ tahun jatuh menjadi 60 ribu-70 ribu ton saja dalam setahun. “Ini merugikan kami hingga miliaran dolar,” akunya di hadapan sekitar 300-an pelaku usaha udang. Awal – nya, Grin mengungkap, pembudidaya di Thailand menyalahkan hatchery (pembenihan) yang menyebarkan EMS melalui benur. Namun, tambak lain yang menggunakan benur dari hatchery berbeda ter – nyata udangnya juga tetap terkena EMS. Akhirnya berdasarkan penelitian pada 2014, disimpulkan bahwa sebagian besar EMS disebabkan air kolam atau sedimen kolam. Grin lantas menjelaskan perbedaan bakteri Vibrio spp. dengan bakteri halofilik gram negatif. Koloni Vibrio hijau (green Vibrio) merupakan bakteri halofilik gram negatif. Koloni ini terjadi secara alami di lingkungan perairan di seluruh dunia dan berupa patogen beberapa hewan air. Se – rang annya dapat menyebabkan keru – sakan jaringan sehingga menimbulkan cacat dan bintik-bintik hitam pada kulit udang. Akibatnya, pembeli akan memo – tong harga udang yang cacat sekitar 20%- 30% dari harga pasar. Beberapa di antaranya menyebabkan Vibriosis bercahaya pada udang juga men jadi penyebab kematian di tambak udang dan akuakultur lainnya sebesar 5%- 80% dalam beberapa hari. Sementara,

Vibrio parahaemolyticus

merusak usus udang hingga menimbulkan kematian massal sampai 80% hanya dalam bebe – rapa hari. Vibrio ini berkoloni di dinding kolam lalu membentuk biofilm dan mem – produksi toksin kemudian masuk ke da – lam usus udang. “Umumnya EMS terjadi pada kolam dengan kepadatan tebar tinggi, jenis udang vaname, dan salinitas air yang ting gi. Ketiadaan tandon yang cukup untuk gan ti air, persiapan kolam yang tidak sem purna, benur stres selama pengangkutan, dan oksigen rendah, serta over pakan,” jelasnya. Vibrio parahaemolyticus Menurut Grin, Vibrio parahaemolyticus pertama kali dilaporkan terdeteksi di China pada 2009 dan bisa terjadi secara alami di lingkungan perairan di seluruh dunia.

Serangannya berlangsung secara musiman dan mencapai maksimum saat musim panas ketika suhu berada pada titik tertinggi dan dilengkapi koloni hijau. V. parahaemolyticus memiliki plasmid yang menghasilkan dua sub-unit toksin. Toksin yang dihasilkannya mirip pada in – sektisida, terkait serangga Photorhabdus (Pir) Toxin. Organ yang menjadi target toksin adalah usus dan jaringan organ. “Saat udang sehat meski banyak patogen, tidak bermasalah. Tetapi ketika udang lemah sementara di lingkungan banyak patogen, maka muncul EMS. Patogen te – lah diidentifikasi sebagai bakteri di alam, terutama ditularkan melalui sistem pencernaan yang menghasilkan racun penyebab nekrosis dan degenerasi.

Zat ini sa – ngat menular pada udang namun tidak da pat menular ke manusia,” urainya. Jadi, simpul Grin, habitat V. parahae mo ly – ticus bisa di usus udang, air budidaya, dan sedimen. Vibrio jenis ini juga terkenal ke – mam puannya untuk penginderaan. Se – makin banyak biofilm terbentuk, semakin banyak pula racun yang dihasilkan. Di da – lam air kolam budidaya, Vibrio virulen pa ra – haemolyticus dalam bentuk hidup bebas. V. parahaemolyticus hanya bisa mem – bentuk koloni pada padatan tersuspensi atau pakan dan tidak ada pemicu untuk ke racunannya. Jika Vibrio virulen para – haemolyticus pada sedimen atau lumpur dalam bentuk biofilm di dasar tambak, baik permukaan lumpur maupun permu – kaan keras, maka tidak ada pemicu untuk virulennya tetapi jumlah bakteri tinggi. Sementara jika berada dalam usus udang, Vibrio dalam formasi biofilm membentuk koloni pada perut dan usus udang.

Blusukan Ke Segala Medan

Bukan tanpa alasan ketika pilihan jatuh kepada Re­ nault Duster untuk liburan kali ini. Selain dikenal irit dalam mengolah bahan bakar, Duster 4×4 terbaru merupakan versi CKD atau rakitan lokal. Bersama empat anggota keluarga dan satu balita, kami memilih Yogyakarta sebagai kota tujuan untuk Holiday Test Drive kali ini. Artinya kami harus menempuh perjalanan sekitar 520 km untuk tiba di Kota Gudeg dari Jakarta. Perjalanan dari titik keberangkatan Condet, Jakarta Timur, kami memilih melalui jalur utara. Selain penasaran, kami ingin ikut merasakan euforia tol baru dan terpanjang yakni tol Cikopo – Palimanan (Cipali) sebagai akses short cut menuju Cirebon.

Menyenangkannya, meski di beberapa titik kondisi jalan tol Cipali bergelombang, bantingan suspensi Duster 4×4 terasa sangat empuk. Untuk sampai ke Cirebon yang berjarak sekitar 210 km, dengan kecepatan ratarata 68,8 km/jam bisa ditempuh 3 jam saja. Catatan konsumsi BBM di rute ini juga cukup baik mencapai 16,8 km/l berdasarkan MID. Lepas dari Cirebon, kami terjebak kemacetan parah di ruas jalan Bumiayu, Brebes menuju Wangon. Tidak kurang sekitar 10 jam terbuang percuma karena kepadatan arus lalu lintas menuju Yogyakarta. Untungnya kami sudah mengantisipasi hal ini dan menyiapkan perbekalan makanan cukup banyak di bagasi.

Meski bukan yang terlapang di kelasnya, ruang bagasi Duster 4×4 cukup untuk menampung tas bawaan kami. Lepas dari Wangon menuju Yogyakarta, arus lalu lintas mulai mencair. Kami sempat singgah di komplek wisata Sumber Adventure Center (SAC), yang berlokasi di Jalan Raya KutoarjoKebumen. Selain kolam renang, di area ini juga tersedia berbagai macam permainan untuk anak dan cukup mengobati rasa penat selepas macet. Sampai di Yogyakarta, sederet agenda sudah menunggu. Melintasi Malioboro hingga berwisata ke Candi Sewu dan Candi Borobudur menjadi pengalaman yang menyenangkan bersama keluarga tercinta.

Tidak lupa, oleh­oleh khas Bakpia jadi buah tangan yang wajib dibeli. Puas mengeksplorasi Yogyakarta selama 3 hari, kami harus kembali ke Jakarta. Rute perjalanan pulang tidak berbeda. Namun nyatanya ruas jalan Wangon ­ Bumiayu kembali menjadi biang macet. Alih­alih mencoba petualangan baru, kami memutar arah dan melalui Purwokerto, Purbalingga, Pemalang menuju Tegal. Di rute inilah semua keseruan terjadi. Praktis kami hanya mengandalkan bantuan GPS dan papan petunjuk arah jalan.

Meski menikmati pemandangan yang indah, kami sendiri tidak yakin akan jalur yang kami lalui bisa mengarah kembali menuju Cirebon dan tol Cipali. Bahkan saat melintas di daerah Slawi, kami sempat terjebak di area pegunungan dengan jalan berpasir. Kombinasi tanjakan dan turunan yang cukup curam, seolah menjadi area bermain yang sebenarnya bagi Duster 4×4. Waktu bagi opsi gerak semua roda (lock) bekerja. Di opsi ini, Duster 4×4 mampu memberikan traksi dan cengkeraman roda yang lebih aman dan mantap terhadap jalan yang memiliki kontur gravel . Satu keunggulan yang tidak dimiliki kompetitor di kelasnya saat ini.